Kamis, 03 Mei 2012

M Ilham Fauzi E: Cita-citanya Jadi Artis

                     Boleh saja menjadi anggota termuda di grup. Cowok yang bersaudara kandung dengan Reza ini bahkan sering disebut sebagai anak bawang dan dijadikan sasaran kejahilan. Tapi jangan pernah anggap remeh. Soal kesiapan sebagai artis, cowok kelahiran Kendari, 29 Agustus 1995 bisa dikatakan paling tinggi.
“Jadi artis itu memang cita-cita. Hahaha,” ceplos Ilham yang oleh penggemar disapa “Si Chubby”. Menghadapi kesibukan atau jadwal manggung yang mulai memadat, justru ditanggapi dengan gembira.
“Kalau melihat manajemen nyantumin jadwal (manggung), aku malah senang banget. Enak kan sibuk, daripada enggak ada kegiatan?”
Well, Ilham memang sosok anak yang amat menyukai kesibukan dan minatnya pun banyak. Kelas 5 SD berani menyatakan keinginan untuk belajar menari kepada orangtuanya. “Orangtua tidak pernah mendorong-dorong. Saya sendiri yang berinisiatif meminta ini-itu,” buka Ilham.
Soal menyanyi, pengidola Justin Bieber ini pun selalu percaya diri, walau hanya berbekal pengalaman sebagai penyanyi kamar mandi. “Kalau guru (di sekolah) nyuruh tampil apa gitu, aku sih nyanyi saja,” ujarnya pede.
Kendati tidak pernah diarahkan secara khusus, orangtua Ilham, pasangan Effendi Yusuf-Sulfiani E telah tanpa sengaja menanamkan pengaruh sebagai penampil yang cukup kuat di dalam keluarga. Sulfiani pernah mengecap profesi model, sementara sang ayah seorang atlet bela diri.
“Kombinasi dari situ kali ya, menurun ke anak-anaknya? Hahaha,” ujar Ilham yang juga mengawali karier sebagai model menduga-duga.
“Mungkin karena itu juga mereka memberi dukungan penuh. Cuma satu pesan mereka, agar jangan sampai melupakan pendidikan.”
Ada satu hal menarik tentang pendidikan. Kendati mengaku santai menghadapi popularitas, di sekolahnya, Ilham malah terkesan menarik diri dari pergaulan. Belakangan, dia mulai merasa enggan, bahkan untuk sekadar nongkrong di kantin sekolah.
“Enggak tahu kenapa, malah lebih milih tidur-tiduran di kelas pas jam istirahat. Kurang tidur juga belakangan, tapi soal malas ke kantin itu mungkin karena aku anak kelas 1. Cuma agak bingung harus bersikap bagaimana di sekolah,” kata Ilham.
Sedikit banyak, cerita Ilham menyiratkan adanya pro dan kontra terhadap SM*SH turut memberinya tekanan. Yang membenci hampir sebanding dengan yang menyukai. Ilham menyadari itu salah satu risiko.
“Kebetulan, kami lahir di tengah-tengah berlangsungnya Korean Wave. Ada yang langsung suka, banyak juga yang terang-terangan benci. Aku sih mencoba ambil positifnya saja. Tidak perlulah dijadikan beban. Malah aku anggap mereka yang membenci itu justru sangat perhatian. Aku salah gerak tari saja mereka langsung komentar. Terima kasih sudah perhatian, ya,” ujar Ilham yang masih rajin membaca komentar baik positif maupun negatif di dunia maya.
Bagi Ilham, bergabung dan meraih popularitas bersama SM*SH sarana terbaik untuk menyalurkan sekaligus mengembangkan hobi dan minatnya. “Aku suka menari dan menyanyi. Keduanya bisa dilakukan di sini. Selain itu, aku juga bisa mendapatkan penghasilan. Siapa tidak mau?” tanya Ilham. “Selain itu, dengan sukses di sini, aku juga merasa bisa menginspirasi anak-anak lain agar berani memiliki mimpi yang sama,” imbuhnya. Siplah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar